Manfaatkan Mangga Muda untuk usaha

Ketika harga mangga sedang jatuh, para petani mangga di Thailand sengaja memetik sebagian besar mangga mereka ketika masih muda. Mangga muda itu direndam larutan garam dan asam cuka, dalam drum-drum plastik. Dengan cara itu, harga mangga akan kembali membaik, dan petani tidak rugi.

Mangga muda yang direndam larutan garam dan cuka itu, akan menjadi pickle (acar) mangga. Harga pickle mangga selalu baik, karena bisa dijual kapan saja sesuai dengan permintaan konsumen. Beda dengan mangga tua (mangga segar), yang jangka waktu pemasarannya sangat terbatas. Selain karena harga sedang jatuh, pemetikan mangga muda, juga dilakukan petani Thailand untuk penjarangan. Maksudnya agar hasil mangga panen bisa seragam. Baik bentuk, ukuran, maupun tingkat ketuaannya. Hingga sortasi sudah dilakukan ketika mangga masih pentil.

Thailand punya delapan kultivar andalan, yakni: Nam Doc Mai, Okrong, Choke Anand, Keow Savoey, Kao Keaw, Pimsenmum, Ngar Charn, Rad. Dari delapan kultivar itu, empat di antaranya paling populer, yakni: Nam Doc Mai, Okrong, Choke Anand, dan Keow Savoey. Empat kultivar mangga Thailand ini sudah lama diintroduksi ke Indonesia, dan mangga Okrong, termasuk yang paling populer. Sebutannya menjadi Okyong. Di sentra pembenihan mangga di Kab. Nganjuk, Jatim, Okrong disebut bahkah “Keong”. Sebutan ini sekarang sudah sangat memasyarakat.

Dari empat kultivar mangga Thailand, Keow Savoey, paling jarang dibuat pickle, sebab prmintaan selalu lebih besar dari pasokan. Mangga kultivar ini dikonsumsi mentah (segar), ketika kulitnya masih hijau, dan daging buahnya keras. Sama seperti mangga lalijiwo di Indonesia. Bedanya, dengan lalijiwo yang kecil, dengan biji cukup besar. Keow Savoey berukuran besar, panjang sampai 25 cm, dan buji kecil serta tipis. Daging buah Keow Savoey berwarna putih, bertekstur renyah, manis, dan harum. Sepintas mirip dengan daging buah jambu biji “bangkok”.

Tradisi membuat pickle mangga sebenarnya berasal dari India. Bedanya, pickle mangga di India hanya terbuat dari mangga varietas tertentu. Pembuatan pickle mangga memang disengaja, sebagai bagian dari menu tradisional khas India. Mangga segar (mentah), dipotong-potong, dicuci, ditiriskan, kemudian dicampur dengan mustard, bubuk cabai, garam, minyak wijen, dan biji kacang fenugreek (Trigonella foenum-graecum). Di India, pickle mangga biasa dibuat oleh ruah tangga, untuk mereka konsumsi sendiri. Seperti di negeri kita orang memasak sayuran.

Pickle, adalah awetan sayuran, buah-buahan, atau bahan lain, yang dikenal di semua benua. Jenis sayuran yang biasa dibuat pickle antara lain kol, sawi pahit, lobak, bit, cabai rawit, bawang merah/putih, jahe muda, dan ketimun. Buah-buahan antara lain jeruk (berikut kulitnya), apel, plum, dan mangga. Di negeri kita, pickle dikenal debagai acar. Bahan acar di Indonesia antara lain ketimun, wortel, bawang merah, dan cabai rawit utuh. Acar digunakan untuk “lalap” makan menu utama, terutama yang berlauk daging/ikan goreng atau bakar. Acar juga disajikan sebagai pelengkap nasi goreng.

Acar hanyalah salah satu dari bentuk pickle. Masyarakat Indonesia, terutama etnis China, juga mengenal asinan sawi pahit. Ini juga salah satu bentuk pickle. Di banyak negara, yang dibuat asinan, bukan hanya sawi pahit, melainkan juga sawi putih, dan kol. Kol menjadi bahan pickle yang menarik, karena fluktuasi harganya juga cukup tinggi. Di sentra sayuran di Brastagi (Sumut), Cipanas, Lembang, dan beberapa kawasan lainnya, kol bisa tidak dipanen, dan hanya dicacah untuk dijadikan pupuk. Padahal, dengan metode sangat sederhana, dengan modal kecil, kol murah ini bisa dibuat pickle.

Mangga muda (mentah) yang dibuat pickle utuh di Thailand, tampak dipasarkan di toko, maupun kaki lima, ketika sedang tidak musim mangga. Pickle mangga ini akan dipotong-potong biasa, lalu digunakan untuk menyantap daging atau ikan bakar. Kadang-kadang mangga utuh ini dibuat menjadi putongan kecil-kecil seperti bihun, kemudian digunakan untuk berbagai resep masakan. Yang jelas, pickle mangga utuh itu bisa menolong petani, hingga tidak menderita kerugian karena harga jatuh. Konsumen juga diuntungkan, karena bisa membeli pickle mangga dengan harga tetap terjangkau.

Bulan September dan Oktober, di Indonesia, khususnya di Jawa, sedang musim mangga. Ada dua permasalahan yang dihadapi oleh komoditas mangga di Indonesia. Pertama, banyak varietas mangga yang nilainya komersialnya sangat rendah, atau sama sekali tidak ada, terutama karena rasanya yang sangat masam. Mangga jenis ini, sebaiknya dipetik muda, dan digarami, tanpa perlu diberi asam sitrat atau cuka. Selama ini mangga masam seperti ini juga lalu dijual, dalam bentuk kupasan, ujungnya diiris, dan dicelup pewarna kuning serta pemanis buatan.

Permasalahan kedua, mangga-mangga komersial seperti harummanis pun, juga mengalami fluktuasi harga yang cukup tinggi. Mangga harummanis yang dipanen bulan-bulan Desember sd. Januari, harganya akan jatuh. Sebab bulan-bulan itu sudah banyak durian, rambutan, nangka, dan manggis. Di Thailand, mangga yang pada bulan-bulan panen raya masih pentil, akan dipanen mentah, dan dibuat pickle dalam keadaan utuh. Cara ini lebih baik, dibandingkan dengan dipanen ketika harganya akan jatuh. Hal seperti ini, masih belum diketahui oleh para petani kita.

Yang juga menjadi permasalahan, masyarakat kita baru terbiasa menyantap pickle sebatas dalam bentuk acar. Pickle kol, terlebih mangga, masih terasa sangat aneh. Sebanarnya hal ini tidak menjadi soal, sebab pasar pickle mangga internasional juga cukup baik. Jepang, Korea, dan terlebih RRC, adaah penyerap pickle mangga cukup besar. Sebagaian besar pickle mangga yang dihasilkan petani Thailand, bukan untuk dikonsumsi sendiri, melainkan diekspor. Sebab mangga segar mereka pun, sebagian besar juga sudah mereka ekspor ke Singapura, Jepang dan Korea.

SUMBER KLIPPING: Foragri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s